Saturday, May 14, 2011

Sepeda

Hayu Hejo

Seiring kesadaran manusia modern akan keseimbangan alam, beberapa tahun terakhir ini munculah gerakan "Go Green, Stop Global Warning" (saya sempat tersenyum ketika melihat sebuah billboard, gerakan ini di Bandung diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda "Hayu Hejo"). Maka menjamurlah produk-produk yang diklaim sebagai produk ramah lingkungan. Kantong plastik mulai dikurangi penggunaannya dan dibuatlah kantong yang dibuat dari bahan serat yang bisa dipergunakan kembali dan akan dengan mudah diurai jika dibuang ke alam.

Bike to Work

Gerakan ini pun membawa trend tersendiri dalam gaya hidup masyarakat urban. Lahirlah gerakan "bike to work", bersepeda ke tempat kerja. Selain untuk mengurangi polusi udara akibat asap kendaraan bermotor, gerakan ini juga menyadarkan kita untuk berolah raga alami (membakar kalori dengan berinteraksi dengan alam). Bahkan khusus di akhir pekan, banyak ruas jalan yang ditutup untuk kendaraan bermotor (Car Free Day), memberi kesempatan para pejalan kaki dan pengguna sepeda untuk menghirup udara pagi.

Sayangnya, niat hati ingin hidup sehat, namun ternyata tak didukung oleh kesadaran masyarakat lainnya. Lihatlah para pesepeda ini, ketika mereka mengayuh sepedanya menuju tempat kerja, bukan udara segar yang didapat, namun asap knalpot yang mengepul dari bus kota yang bikin sesak nafas. Belum lagi bahaya diserempet karena sopir bus kota yang ugal-ugalan mengejar setoran. Maka tempat paling aman untuk bersepeda adalah di area Car Free Day tadi atau keliling komplek perumahan yang sepi.

Saya dan Sepeda

Saya tidak pernah memiliki sepeda, tapi ayah saya pernah punya. Ia mendapatkannya ketika menjabat kepala dusun di desa. Ia suka membawa serta saya ke sawah. Saya suka sekali dibonceng di belakangnya sambil memeluk pinggangnya. Namun peangalaman indah itu tak berlangsung lama. Setelah masa jabatannya berakhir, sepeda tersebut dikembalikan ke desa.

Saya belajar naik sepeda dengan meminjam sepeda sepupu jauh saya, itu pun jika ia sudah kelelahan seharian main sepeda. Para tetangga mengajari saya main jangkungan (engrang) terlebih dahulu. Katanya saya harus belajar menjaga keseimbangan terlebih dahulu untuk belajar naik sepeda. Setelah jago naik jangkungan, maka saya mulai belajar naik sepeda. Bukan hal mudah, berkali-kali saya terjatuh karena oleng. Lutut saya memar ketika terjatuh. Namun karena keinginan untuk bisa menaklukannya, saya tak patah semangat dan terus mencoba. Akhirnya saya bisa mengendarainya. Melalui jalanan desa yang berbatu tubuh saya terguncang mengayuh sepeda kecil tersebut.

Sepeda dan Filosopi

Berdasarkan pengalaman kecil saya,maka saya dibuat terpaku oleh selembar brosur yang saya dapat ketika mengunjungi sebuah pameran kemarin. Stand pameran tersebut memang menyedikan berbagai perlengkapan untuk bersepeda. Di brosurnya ada kutipan kata-kata bijak, "Life is like riding a bicycle - in order to keep your balance, you must keep moving. (Albert Einstein / 1879 -1955)". Wowwww.....keren. Tepat sekali dengan apa yang saya alami ketika belajar naik sepeda dulu. Jika kita tidak mengayuh sepeda, sangat tidak mungkin kita bisa seimbang. Satu-satunya cara untuk mendapat keseimbangan tersebut, ya kita harus menggerakkan sepeda tersebut dengan mengayuhnya, mengendalikan stang dan mengendalikan posisi badan di atas sadel.

Begitupun hidup saya, saya harus tetap maju, menjalaninya, memperbaiki diri. Hayo semangat Soen!

Friday, May 13, 2011

Pets

Saya alumni Fakultas Peternakan, namun sampai hari-hari kemarin saya tak pernah memiliki hewan peliharaan selain cicak yang masuk ke kamar saya tanpa saya undang.


Entah karena alasan apa, tiba-tiba saja seminggu terakhir ini saya membeli aquarium yang saya isi dengan ikan dan udang. Saya juga memiliki 2 ekor hamster corak, lengkap dengan rumah dan tempat bermain.


Bersyukur hewan-hewan tersebut sekarang menemani saya. Ada yang menghibur saya ketika hati saya sedang remuk, mekipun mereka tidak bisa bercakap-cakap dengan saya.Semoga mereka sehat selalu dan betah menemani saya.

Thursday, May 12, 2011

diam

aku haus kata-kata

aku haus bicaramu

tolong jangan diamkan aku

Tuesday, May 10, 2011

Konser dan Keluarga


Beberapa hari terakhir ini saya menonton iklan BKKBN di layar televisi, model iklannya penyanyi muda Afgan. Di situ Afgan cerita tentang bagaimana dia mempersiapkan sebuah konser secara matang, dimulai dari latihan suara, tata panggung, lighting, koreografi dan band pengiring. Menurutnya itulah kunci sukses sebuah konser. Kemudian ia berujar begitu juga dalam membangun sebuah keluarga, harus dipersiapkan secara matang.

Saya mungkin setuju dengan konsep iklan tersebut, bahwa jika ingin sukses dalam mencapai suatu tujuan, perlu persiapan yang matang. Namun apakah keluarga bisa disamakan dengan sebuah konser? Apakah seorang artis yang behasil me-manage sebuah konser, di saat yang sama ia juga berhasil dalam me-manage perencanaan dalam berkeluarga? saya rasa tidak selalu. Lihatlah para artis yang digelari Diva di negeri ini. Kurang sukses apa mereka menggelar konser? Penjualan tiket sold out, kapasitas tempat penuh sesak oleh penonton yang berjubel, keuntungan melimpah ruah, namun urusan keluarga? malah berantakan..

Lalu kenapa model iklan yang dipilih adalah Afgan? Apakah sosoknya cukup mewakili pesan bahwa keluarga yang dipersiapkan secara matang, kelak akan menjamin sebuah keluarga yang bahagia dalam waktu langgeng?Saya bingung. Penyanyi muda tersebut mungkin sukses di dunia tarik suara, namun dalam perencanaan keluarga?ada pengalaman?

Ah,pikiran positif saya mengatakan bahwa maksud dijadikannya penyanyi ini sebagai model iklannya karena ia cukup mewakili untuk icon "manusia muda yang berhasil dalam perencanaan". Tujuannya agar para remaja seusia model iklannya bisa sukses dalam merencanakan segala hal, termasuk membangun sebuah keluarga.

Bagi saya yang sangat awam dengan ilmu komunikasi media (terlebih iklan), iklan ini terasa janggal. Di mata saya, seorang model iklan harus benar-benar mewakili iklan yang disampaikannya. Misalnya, model iklan shampoo harus memiliki rambut yang bagus dan terawat, model iklan sabun mandi harus memiliki kulit yang bersih dan mulus, jauh dari kudis. Nah untuk urusan keluarga berencana, dari dulu saya terbiasa menyaksikan model iklannya adalah sepasang suami-istri yang digambarkan bahagia hidup dengan anak-anaknya. Di depan kamera, mereka tersenyum seolah berkata kepada pemirsa "beginilah buktinya jika sebuah keluarga direncanakan secara matang, maka contohlah kami".

Maka bagi saya, sosok penyanyi muda ini sebagai bintang iklan keluarga berencana belumlah tepat karena belum ada bukti bahwa ia sukses dalam membangun sebuah keluarga. Btw, kenapa ya saya gak ada kerjaan ngomentarin iklan, sementara saya sendiri selalu berantakan dalam perencanaan. Apalagi berhubungan dengan yang namanya berkeluarga.

Monday, May 9, 2011

Cinta Tanpa Alasan

aku mencintaimu, karena aku mencintaimu, tak perlu alasan lain....

cinta sejati tak mengenal alasan ketika ditanya mengapa kita jatuh cinta.

Sunday, May 8, 2011

Ekspresif


Bahaya!! Sampai usia saya yang sekarang, saya masih belum pandai menyembunyikan suasana hati. Nampaknya saya masih belum berbakat untuk menjadi aktor.

Kemarin, asisten saya di tempat kerja menegur saya dengan pertanyaan yang benar-benar tepat sasaran, "kenapa A? ada apa? cerita dong!". Saya benar-benar kaget dengan pertanyaannya yang tiba-tiba itu. Suasana hati saya memang sedang tidak nyaman, saya sedang galau, dan saya telah berusaha untuk menunjukkan profesionalitas kerja. Namun rupanya air muka saya terlalu mudah ditebak. Ketika saya menjawab "ga da papa, emang kenapa?", assisten saya tersenyum geli "ga usah bohong! muka lu kusut banget".

Rupanya saya belum berubah, sedari dulu ekspresi muka saya ketika sedih atau galau terlalu mudah ditebak oleh orang lain. Ternyata hal ini dikarenakan kebiasaan sehari-hari saya yang --menurut sebagian besar teman saya-- nampak semangat dan ceria. Jadi, ketika sorot mata saya sudah sayu, orang lain akan dengan mudah menerka bahwa saya sedang menghadapi masalah.

Sebenarnya saya tak ingin kebiasaan ini berkelanjutan, karena biasanya hal tersebut membawa efek yang lebih buruk pada kondisi hati saya. Jika raut muka saya sedang sedih, teman-teman saya akan tampil menjadi pahlawan untuk menghibur saya dengan harapan saya segera pulih, kembali menjadi sosok yang menyenangkan. Sayangnya, setiap kali hal tersebut dilakukan, saya biasanya malah menjadi merasa terusik. Saya lebih suka menghadapi permasalahan yang saya hadapi dengan menyendiri, menarik diri, mengintrospeksi diri sendiri, kemudian pelan-pelan menganalisis masalah yang saya hadapi dan mencari solusinya sendiri. Bukannya tidak ingin mendapatkan solusi dari orang lain, namun saya lebih percaya dengan kata hati saya. Mungkin terdengar egois, namun itulah saya.

Tuesday, April 5, 2011

Trotoar Untuk Siapa?


Setiap kali berangkat ke tempat fitnes, setelah turun dari angkutan kota, saya melanjutkannya dengan berjalan kaki. Sebenarnya bisa saja saya melanjutkan dengan naik angkot berikutnya, namun hal itu tidak saya lakukan, selain sayang dengan uang 1000 rupiah, saya juga merasa lebih enak dengan berjalan kaki karena setibanya di tempat fitness, keringat saya sudah keluar begitu pula suhu tubuh sudah meningkat dengan jalan kaki yang saya lakukan.

Yang sedikit membuat jengkel, setiap kali saya berjalan kaki, saya tidak menemukan trotoar yang membuat saya nyaman. Dahulu, ketika masih duduk di bangku SD di kampung, guru saya mengajarkan kalau berjalan di jalan raya perkotaan, kita harus berjalan di trotoar karena trotoar adalah tempat untuk pejalan kaki. Saya kemudian bertanya apa itu trotoar. Guru saya menjelaskan bahwa trotoar merupakan area di pinggir jalan raya yang dibuat khusus untuk para pejalan kaki, terbuat dari tembok atau pavin block yang dibuat lebih tinggi dari jalan raya, di bagian tepinya diberi garis sewarna kulit zebra, hitam putih. Guru saya juga mengajarkan bahwa jika kita berjalan di trotoar, kita harus berada di sebelah kiri arah yang kita tuju. Jadi jika kita menuju ke arah selatan, berjalanlah di sebelah timur jalan, dan seterusnya. Sebenarnya untuk yang satu ini, saya ingin protes, kenapa kita harus berjalan searah dengan kendaraan yang melintas lebih dekat dengan kita. Saya pikir itu "curang", bagaimana jika ada sopir mabuk yang tidak bisa mengendalikan kendaraannya. Saya tidak akan melihatnya karena berada di belakang saya. Lebih baik saya berjalan di sebelah kanan jalan sehingga kendaraan yang melaju di depan saya bisa kelihatan. Jadi dari kejauhan, kita dapat menghindari resiko tertabrak.

Masalahnya, di jalur jalan raya di tempat fitness saya berada, jalurnya satu arah/jalur. Maka pilihan saya untuk berjalan di sebelah kanan jalan tetap beresiko tertabrak dari belakang. Terlebih di sepanjang jalur tersebut, para pengendara terbiasa ngebut. Parahnya, trotoar di sebelah kiri-kanan jalan tidak ada yang membuat saya nyaman. Hilang sudah bayangan indah saya di masa kecil tentang trotoar yang lebar dan nyaman. Tak ada lapisan tembok atau pavin block yang rata, melainkan tumpukan kerikil bergelombang. Trotoarnya juga tidak lebar, terkadang saya juga harus terpaksa menginjak jalan raya sambil melihat ke belakang (takut ditabrak mobil/motor) karena perjalanan di trotoar terhalang mobil yang parkir atau pedagang kaki lima. Beberapa kali saya terkesiap, karena hampir terserempet mobil/motor yang melaju kencang.

Saya tidak mengalaminya di jalur tersebut saja. Peristiwa yang sama seringkali saya alami di jalan raya di pasar, depan pusat pebelanjaan, rumah sakit, terminal, stasiun dan tempat umum lainnya. Para pejalan kaki di kota besar sangat kesulitan mendapatkan trotoar yang nyaman. Bahkan sekarang banyak sekali bahu jalan ini dipakai untuk tempat orang berjualan (biasa disebut pedagang kaki lima). Adapun di jalur macet, trotoar kadang menjadi jalan "alternatif" pengguna motor untuk menerobos kemacetan. Maka saya dan banyak pejalan kaki lain hanya bisa pasrah dengan kondisi ini, dan sesekali mengumpat dalam hati jika perjalanan yang seharusnya menyehatkan tersebut, diusik dengan hambatan pedagang kaki lima atau ada motor yang melintas. Bagaimana pun mereka pasti punya alasan melakukannya (pedagang kaki lima mencari nafkah, pengendara motor sedang terburu-buru).

Apa tidak sebaiknya saya beli kendaraan saja? Ah, saya masih sayang kaki saya. Saya masih percaya jalan kaki lebih menyehatkan dibanding naik kendaraan (selain sepeda tentunya). Selain itu, saya pikir cukup sudah polusi yang ditimbulkan dari asap kendaraan bermotor, cukup sudah bahan bakar bumi diexploitasi untuk kendaraan, cukup sudah kemacetan akibat tiap orang berlomba mengoleksi kendaraan bermotor, cukup sudah orang-orang dibuat emosi karena motor yang masuk ke area trotoar (hal yang sangat mungkin saya lakukan juga jika punya kendaraan, karena sifat saya yang tidak sabaran). Wah, alasan saya makin berlebihan.